Katanya, teman belum bisa dibilang sahabat kalau belum pernah berantem. Makanya, selama enggak bikin geng pecah atau mengubah status dari teman jadi musuh, bolehlah sesekali berantem sama teman segeng. (Pssst… jangan lama-lama, ya.)

case 1: berbagi gebetan
Berbagi gebetan? Sama teman sendiri? Hiii… asli nyebelin! Mesti ngedengerin curhat teman soal aksi PDKT-nya ke si gebetan milik bersama pas mereka ekskul bareng. Atau sebaliknya, teman kita yang ngambek saat kita bilang kita sering berpapasan dengan si gebetan yang kebetulan tetangga kita. Lebih enggak enak lagi, kalau kita berdua sama-sama cerita soal rasa cemburu masing-masing ke teman geng lainnya. Hasilnya, pas ngumpul bareng, sesi gosip jadi enggak sebebas biasa. Semua jadi serba enggak enakan buat ngomongin topik sensitif soal gebetan. Padahal, apa gosip yang lebih seru daripada cowok?

deal with it:
Suka cowok yang sama tuh wajar kok, apalagi kalau gebetan kita memang high quality. Biar enggak jadi konflik, coba deh kita bikin kesepakatan sama teman satu geng kita, entah cowok itu bakal kita jadikan gebetan bersama selamanya alias enggak ada yang boleh PDKT sama dia, atau kita mau sama-sama PDKT tapi dengan cara sportif. Artinya kita masing-masing harus kasih tahu setiap gerakan yang kita ambil dalam rangka PDKT, dan sudah sejauh mana hubungan kita dengan si gebetan itu. Yang paling penting, kita harus janji siapa pun yang berhasil mendapatkan si gebetan, pihak satunya harus rela dan enggak membiarkan hal ini memecah kekompakan geng kita. Kalau kita enggak yakin bisa, mending dijadikan gebetan milik bersama selamanya saja kali ya. Lumayan kan, kita jadi punya teman buat ngegosipin dia di belakang. Tanpa harapan apa-apa.

case 2: geng dalam geng
Dua dari teman segeng kita kelihatan lebih akrab sendiri. Ke mana-mana mereka selalu berduaan, kadang enggak ngajak kita-kita, anggota geng lainnya. Bahkan, mereka kelihatan seperti punya gosip sendiri dan enggak rela buat berbagi itu sama yang lainnya. Pas ngumpul pun, mereka malah sibuk berduaan saja. Nyebelin banget. Kok jadi bikin geng sendiri sih?

deal with it:
Kali ini, buang dulu jauh-jauh semua gengsi kita. Cuek dan langsung tanya saja apa yang lagi sibuk mereka obrolin. Kalau mereka bilang kita enggak bakal ngerti, bilang saja kita mau coba dengar dulu, karena kayaknya seru. Kalau mereka masih juga enggak mau cerita, daripada kita dan teman segeng tambah kesal dengan mereka, lebih baik langsung terus terang saja dan bilang kalau kita merasa enggak nyaman karena mereka selalu asyik sendiri dan nyuekin yang lainnya. Yang pasti, pas ngomong itu kita harus ingat untuk enggak marah-marah. Soalnya enggak bisa dipungkiri juga sih, kadang kita memang merasa lebih nyaman untuk ngomong sama orang tertentu daripada sama semua orang. Jadi kalau memang persahabatan kita segitu pentingnya, kita bisa kompromi dengan meminta mereka untuk enggak sibuk sendiri saat kita lagi ngumpul bareng. Bilang saja supaya enggak ada yang merasa tersisihkan.

case 3: main pintu belakang
Teman segeng kita, si A, doyan banget ngomongin teman segeng kita yang lain, si B, saat dia lagi enggak ada. Iiih… kalau sampai si B tahu, gimana? Bahkan seandainya dia enggak tahu, memang boleh ya, ngomongin teman sendiri?

deal with it:
Yaaa… namanya juga gosip. Jujur saja, siapa sih yang enggak suka. Tapi beda kasusnya, kalau yang diomongin itu teman kita sendiri. Dalam kasus pertemanan manapun, kayaknya itu dosa besar deh. Kita memanggil mereka teman artinya kita bisa ngomong apa saja ke mereka. Termasuk saat kita ada masalah atau enggak suka sama mereka. Ngomongin di belakang, bukan cuma tindakan seorang pengecut, tapi juga menunjukkan kalau kita sama sekali enggak menganggap mereka teman. Jadi kalau ada teman kita yang begitu, yuk kita duduk bareng dan ajak mereka review lagi ’aturan-aturan’ dalam persahabatan.

case 4: beda pendapat
Cuma gara-gara masalah kecil seperti menentukan mau hangout di mana saja, kita bisa jadi berantem gede sama teman-teman segeng. Habis enggak ada yang pernah mau ngalah sih.

deal with it:
Beda pendapat tuh wajar banget. Namanya juga manusia. Makin banyak kepala, pasti makin susah sampai pada kata temu. Tapi kalau enggak pernah ada yang mau ngalah, kita bakal bikin suasana geng jadi enggak enak. Biar enggak jadi konflik berkepanjangan, setiap kali beda pendapat coba deh untuk tidak langsung menyanggah pendapat teman kita. Coba bilang, “Ide itu oke sih, tapi kalau kayak gini, gimana?” Nah, habis itu tinggal kita omongin deh bareng-bareng ide yang mana yang paling oke. Yang penting, kita harus mengingatkan diri sendiri dan semua teman kita untuk open minded dan enggak memaksakan pendapat sendiri. Kalau masih enggak efek, ambil cara demokrasi saja deh, pakai voting. Gampang dan adil. Asal semua janji untuk bersikap fair dan menjalankan keputusan bersama itu. Biarpun mungkin enggak cocok banget sama apa yang ada di hati kita.

case 5: pacar vs peer
Salah satu teman segeng kita akhirnya jadian sama gebetan sepanjang masanya. Kita ikut senang sih, tapi sekaligus sebal juga. Habis, dia sekarang jadi sering nolak pas diajak ngumpul bareng di jam istirahat atau hang-out bareng saat weekend. Ke mana-mana berduaan melulu sama pacarnya. Sekalinya bisa ngumpul bareng, yang dia omongin pasti seputar cowoknya. Iiih… kok jadi lupa teman gitu?

deal with it:
Sebal sih pasti, tapi coba deh balik posisinya. Kalau kita yang baru punya pacar, pasti kita juga pengin kan menghabiskan banyak waktu dengan pacar kita. Soalnya kita yakin, yang namanya teman, pasti akan selalu ada buat kita dan enggak bakal ninggalin kita. Jadi kali ini, sabar-sabar saja ya. Dia enggak bakal ’menghilang’ selamanya kok. Yaaa… kalau dia kebanyakan ngomongin pacarnya, boleh sih sekali-kali kita becandain, bilang, ”Kayaknya belakangan kita lebih kenal sama cowok kamu nih, daripada sama kamu.” Yang penting, jangan sampai masalah pacar baru ini bikin persahabatan kita retak. Atau, ajak saja teman kita buat nongkrong bareng sama pacarnya. Siapa tahu pacarnya bakal ngajak teman-teman cowoknya yang masih jomblo buat dikenalkan ke kita. Semua senang, deh.

retak… buru-buru ditambal

Friends are treasures. Jadi kalau sudah mulai muncul retakan-retakan di dalam geng kita, buruan ditambal yuk, sebelum retakannya makin besar.

1. maaf, yaaa
Yang namanya bertengkar tuh penyebabnya bukan kesalahan salah satu pihak, tapi keduanya, entah sekecil apapun kesalahan itu. Makanya, meskipun kita enggak merasa salah, lebih baik kita tetap minta maaf, karena teman kita kemungkinan besar juga merasa enggak salah. Jadi daripada saling tunggu-tungguan buat meminta maaf, apa salahnya kita berjiwa besar dan minta maaf duluan. Enggak perlu pusingin gimana respon dia nantinya. If this makes you feel better, ada pepatah bilang, ’yang waras ngalah.’ Hi hi hi…
SPLASH: Kebanyakan orang merasa lebih gampang untuk minta maaf lewat telepon atau SMS.

2. say hi
Simpan dulu gengsi kita dalam-dalam, enggak pathetic kok kalau kita menyapa teman kita duluan pas papasan di sekolah atau di mana saja. Anggap saja gencatan senjata.

3. ajak barengan
Ajak teman kita buat pulang bareng atau makan di kantin pas istirahat. Ngajaknya yang tulus, ya. Soalnya, sama seperti kita, mungkin dia lagi gengsi-gengsinya buat berbaikan. Tapi kalau dia memang niat temenan sama kita, setelah beberapa kali diajak, dia pasti akan membuang gengsinya dan mau bareng sama kita lagi.

4. friendly message
Kirim SMS atau BBM ke teman kita. Tanyakan saja hal-hal kecil seperti apa kabar dia, atau sekadar kasih tahu apa yang lagi sibuk kita kerjakan sekarang. Enggak perlu ambisius juga sih ngirim sampai berkali-kali dalam sehari. Tunggu respon dari dia, kalau enggak ada, tunggu beberapa hari, baru deh coba kirimkan lagi.

5. just for you
Kalau kebetulan memang kita yang salah dan cara lain sudah enggak mempan, coba cara yang lebih dramatis. Kasih dia hadiah, misal cupcake atau sekotak cokelat. Sisipkan juga kertas bertuliskan, “Let’s be friend again.”

mutual relationship

Yang namanya persahabatan itu adalah hubungan mutualisme. Jadi, yes, berusaha memperbaiki hubungan setelah berantem tuh memang wajib, tapi bukan berarti kita cuma bisa pasrah saja saat teman kita enggak menanggapi semua usaha kita buat baikan. Kita enggak perlu menunggu teman kita untuk pulang bareng jika dia sudah menolak lebih dari dua minggu. Kita enggak perlu menghabiskan pulsa buat SMS dia setiap hari, atau ngasih hadiah berkali-kali, tanpa sekali pun mendapat balasan. Kalau sudah lebih dari dua minggu tetap enggak ada tanda-tanda dia mau baikan, yah berhenti saja. Karena pertemanan butuh dua pihak untuk tetap berjalan. Kalau dia enggak mau berusaha sekeras kita, mungkin ini artinya dia gagal dalam tes untuk menjadi seorang sahabat.

ditulis oleh fitri, diedit oleh ruth
Dimuat di W no. 72-2010 terbit 5 Mei 2010